Eksodus dari Negeri Minnan
Bayangin lu hidup di Fujian abad ke-19, sebuah wilayah yang secara kultural dikenal sebagai Minnan. Pada masa itu, Tiongkok sedang berada di titik nadir. Tanah kering kerontang, perang saudara (Pemberontakan Taiping) membakar desa-desa, dan pemerintah Dinasti Qing yang korup nggak peduli pada perut rakyat yang kosong. Pilihan lu cuma dua: bertahan di rumah menanti ajal, atau nekat menantang maut menyeberangi lautan lepas.
Nenek moyang kita memilih opsi yang paling gila. Mereka menaiki kapal Jung dan tongkang kayu yang sempit, berdesakan dengan ratusan nyawa lain dalam kondisi yang jauh dari kata manusiawi. Selama berbulan-bulan, mereka hanya melihat langit dan air. Tak ada GPS, tak ada kompas digital; navigasi mereka hanyalah rasi bintang di langit malam dan insting pelaut yang tajam.
Banyak dari mereka yang tak pernah sampai. Badai Samudra Hindia seringkali menelan kapal-kapal rapuh ini tanpa sisa. Namun, bagi mereka yang berhasil melihat garis pantai Nusantara, rasa syukur itu tak terlukiskan. Mereka mendarat dengan tangan hampa, pakaian lusuh di badan, tapi membawa satu aset yang tak bisa dihancurkan oleh badai manapun: Mentalitas Baja dan Etos Kerja Keras.

The Origin
Fujian Coast, South China
Visual Report #001: Pesisir Tenggara Fujian — Titik Nol di mana sejarah ribuan diaspora dimulai.
